Rabu, 11 Oktober 2023

Seperti Rasa Keripik Kaca

Andai saja kau bisa merasakan, bahwasannya menaruh hati kepada seseorang yang hampir sah menjadi pemilik hati lelaki lain begitu menyiksa. Serba salah memang. Benih-benih yang telah tumbuh dalam pangkal pikiranku, merangsang otak untuk senantiasa berdialog bersamamu. 

Meski aku tahu, bagaimana ujung kisah ini. Meski aku tahu, akhir perjalanan kita. Aku hanya ingin berdoa, agar Tuhan memberi waktu lebih lama lagi untuk kebersamaan yang tak semestinya kuharapkan ini. Yaa ... aku ingin Tuhan tak buru-buru memisahkanmu dariku. 

Bagaimana jika memang Tuhan tak setuju dengan harapanku?

Aku sendiri pun tak dapat membayangkan, segila apa aku kelak ketika hanya bisa pasrah melihat punggungmu menjauh dari pandangan mataku. Akankah kau akan sekali saja menoleh kepadaku, lalu memberikan senyum terakhirmu? Atau hanya sekadar melambaikan tangan, tanda selamat tinggal untukku darimu?

Benar memang kata orang-orang, jika rasa semakin besar, semakin berat pula kelak kita menyeretnya pergi meninggalkan si pencipta rasa tadi. Yaa ... kaulah si pencipta rasa itu. Pencipta segala rasa yang belum pernah aku cicipi sebelumnya. Andaikan rasa itu bisa diceritakan, aku ingin memesan rasa seperti rasa keripik kaca kesukaanmu itu. Agar aku juga bisa menjadi candu untukmu. 

Kamis, 05 Oktober 2023

Dilema Kaliandra

Siang ini aku sedang duduk di serambi taman kantorku. Menunggu waktu istirahat usai, sembari menghabiskan es kopi yang telah tersisa separuh porsi. 

Sejenak mataku tertuju pada bunga kaliandra yang tumbuh di taman tak jauh dari tempatku bergeming. Sekawanan lebah sedang menyerbu kaliandra itu. Aku membayangkan, andai saja aku yang menjadi bunga cantik yang berbentuk seperti mangkuk dengan benang-benang merah putih yang tersusun rapi dari dalam mangkuknya itu. Entah harus senang atau sedih yang akan kurasakan. 

Rasa senang karena banyak yang tertarik padaku; ataukah akan sedih, bila tak bisa berbuat apa-apa tatkala para lebah itu bergantian mengambil sari-sari maduku.

Bagaimana jika itu dikaitkan dengan kehidupanku?

Aku hanya wanita biasa yang kerap memiliki ego seperti pada umumnya kaumku yang lain. Ada kalanya aku ingin tampil menarik dan menjadi pusat perhatian. Tapi dalam hati kecil, aku berniat untuk menyembunyikan pesonaku hanya untuk satu orang yang aku cintai kelak. 

Dari sanalah, rasa dilema itu terlahir. 

Baik dan buruk, aku perlu menimbangnya, agar kelak aku tak terjerumus pada pilihan yang salah. Haruskah aku menjadi kaliandra itu? Pantaskah aku? Ataukah lebih baik menjadi opuntia saja, meski tak kalah menawan namun terlindungi duri-duri kaktus yang menghidupinya. 

Sisa es kopiku telah tandas. Sebelum beranjak dari dudukku, sejenak kupandang jauh langit ibu kota siang ini. Di sana tergambar sosok lelaki yang kucinta. Timbul tanya di dalam benak. Mungkinkah kelak aku ditakdirkan bersamanya? 

Jika memang begitu, apakah dia lebih menyukaiku sebagai kaliandra, atau sebagai opuntia? Atau malah justru dia ingin aku menjadi hal lain selain itu ...? 

Pertanyaan-pertanyaan itu mengiringi langkah, yang kutuntun menuju ruang kerjaku.

Senin, 02 Oktober 2023

Bidadari Penakut

Hantu? Makhluk macam apa itu? Aku tidak mempercayainya.

Takut? Untuk apa aku menakutkan hal yang tak bisa kulihat. Justru aku lebih takut jika kehilangan sosok bidadari yang sedang serius bercerita tentang hal-hal mistis; padaku. 

Kamu? Yaa, Bidadari itu adalah kamu. Makhluk indah yang nyata hadir di hadapanku. 

Sedikit lucu memang, bagaimana bisa seorang bidadari takut dengan hantu, yang sekali pun tak pernah memperlihatkan wujud padamu?

Yang kupikir kan malah sebaliknya, mereka mengganggu karena merasa iri saja padamu. Kau bisa kulihat, sedang mereka tak dapat. Kau bisa kugenggam, sedang mereka berbeda alam. Kau mampu kuajak tertawa, sedang mereka hanya melihat dengan kecewa. Dan ... karena parasmu indah, sedang mereka tak napak dengan tanah. 

Berbanggalah, karena kau menang telak atas mereka. Untuk apa takut, jika kau yakin bahwa kau adalah juaranya. Mungkin mereka mengusikmu kali ini. Tapi tidak untuk waktu setelahnya. Sebab kau sekarang punya seorang penjaga (sepertiku), sedangkan mereka tak punya apapun terkecuali raga yang hampa. 

Kelak, jika mereka kembali mengganggu, tak usah kau lari. Sebut saja namaku tiga kali, mereka nanti yang akan pergi.

Jadi, mulai saat ini. Tak perlu lagi risau masalah ketakutanmu pada mereka. Risaulah pada kebersamaan kita, dengan masa depan yang masih dipertanyakan. 

Kau; sang bidadari sejati. Aku; sang pemimpi bidadari.

Minggu, 01 Oktober 2023

Selendang Bidadari

Purnama pertama di bulan oktober. Aku masih saja mengharap temu denganmu, di ruang tunggu kita; tempat biasa kita berjumpa.

Pagi ini bertepatan dengan hari senin. Aku sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Seperti halnya hari-hari sebelumnya. Niatku pagi ini hanya satu; ingin segera menjumpaimu.

Meski hanya berpapasan, atau sekadar bertukar senyum. Aku merasakan ada hal yang lain, seperti ada yang membuatku betah untuk berlama-lama melewati hari ini. Ada hal yang membuatku berharap, agar waktu sedikit saja memberiku ruang untuk membersamaimu hari ini. 

"Ahh, andai saja jam di tanganku yang sedang berhenti ini bisa turut serta menghentikan waktu semesta ..." pikirku waktu itu. 

Namun, aku sedikit cemas ketika bidadari yang aku tunggu, kini tak kunjung datang menampakkan diri. Apakah dia akan datang lebih siang dari biasanya? Apakah aku perlu mengirim pesan padanya untuk menjawab rasa penasaranku itu? Ahh, meskipun ingin, tapi aku merasa kurang percaya diri untuk menanyakan hal sepele seperti itu padamu. 

Dalam diam aku berangan, agar kau segera hadir di hadapanku. Secepat kilat menujuku, terbang dengan selendang bidadari warna biru favoritmu. 

Ahh, semisal saja aku punya selendang semacam itu (juga), mungkin aku saja yang datang menjemputmu, agar cemas tak lagi merongrong pikiran tentang ketidakhadiranmu. 

Atau aku curi saja selendang itu darimu. Agar kelak, kau tak bisa terbang ke mana-mana, tanpa aku; di sisimu.

Rabu, 19 Juli 2023

Rangkaian Tunggu

Menunggu itu menyenangkan, setidaknya itu bagiku; meski tidak bagimu. Bagaimana bisa menunggu itu membosankan, tatkala itu dapat menampakkan rasa haru bagi yang ditunggu. Bukankah itu merupakan sebuah kebahagiaan pula bagiku; bilamana melihat yang terkasih tersenyum melihat perjuanganku untuknya?

Yaa, bagiku menunggu adalah sebuah perjuangan yang menyenangkan. Jika kita memang yakin dengan apa yang kita tunggu, maka lakukan. Bisa jadi bagimu ini membuang waktu. Tapi bagiku, ini sebuah pembelajaran tentang sabar yang beradu kuat dengan gusar. 

Tidak ada yang sia-sia. Yang ada hanyalah kepuasan atas perjuangan yang telah kulakukan. Tak perlu bersedih bila itu semua meleset dari jalan cerita yang aku ingin. Semua telah digariskan. Semesta telah mengaturnya. Pun aku bukan penenung andal. Yang aku tau, aku hanya perlu berjuang; untukmu. 


Kamis, 24 Maret 2022

Selumbari

Menjelang tengah malam di malam kebahagianmu. Aku masih terjaga dari kantuk yang sempat mengetuk kesadaranku. Pikiran terus saja memaksa untuk melupakan segala sakit, meski keyakinanku berkata sulit.

"Tak masalah bila memang kau bahagia." Hatiku berkata seolah kau mendengarnya. Pun dengan senyum terpaksa aku berhalusinasi menghadirkan sosok dirimu di hadapan. Kulihat wajah sedihmu, persis seperti yang kulihat dua hari lalu.

Bagaimana pun, esok adalah takdir yang akan kita tempuh, meski dengan jalan yang kini berbeda jauh. Tak perlu memikirkan keadaanku. Justru yang aku khawatirkan adalah kamu yang tak mampu rela akan suratan yang telah digariskan dalam hidup kita. 

Aku malah berharap, semua perlakuanmu selama ini, hanyalah sandiwara semata. Dengan begitu, aku lebih mudah untuk melupakanmu. Entahlah ... Yang pasti, sesuai kesepakatan, esok hari adalah hari di mana kita saling menghapus nama di ponsel kita masing-masing. 

Selamat tinggal masa lalu. Kini, dini hari tersisa satu menit lagi. 






Jumat, 13 Agustus 2021

Terkesima

Wajah tanpa halang, tercermin pada sepasang retina. 

Entah musti berucap ataukah cukup mengagum dalam diam.

Raut muka bingung menatap selidik. 

Duhai puan, pandangan itu membuat diri menjadi salah tingkah. 

Andaikan nyali cukup untuk membuat bibir ini berujar. 

Namun sayang, aku hanya membalas senyum atas segala tanyamu. 

Inikah rasa yang dikata orang-orang itu; terkesima pada jumpa pertama. 


Sayangnya, pertemuan ini hanya sebatas perjalanan di kereta. 

Frekuensi tanya pun memudar, seiring kereta telah penuh berlabuh pada tujuan. 

Rabu, 28 Juli 2021

Hanya Sebuah Penawaran

Bagaimana jika begini, kau menjadi teman berceritaku, dan aku menjadi tempat keluh kesahmu. Seperti halnya ketika kau menyandarkan kepala di bahuku. Kau mendapat sedikit kenyamanan dalam lelap, sedang aku sedikit memperoleh ketenangan tatkala menghirup wangi rambutmu dalam hitungan jarak milimeter. Impas bukan?

 

Tapi itu hanya sebuah tawaran saja. Aku tak pernah benar-benar memaksamu. Karena kenyamanan tak pernah butuh suatu paksaan. Karena sebuah paksaan tak akan pernah menumbuhkan kenyamanan. 

Tak perlu berpikir terlalu dalam tentang ini, karena aku tahu, kau pasti akan mengeluh tentang kapasitas otakmu. Sebab ini tidak ada kaitannya dengan kapasitas otak, akan tetapi lebih melibatkan hati dan perasaan. 


Yaaa... Tak perlu berpikir terlalu rumit. Cukup pejamkan saja matamu. Lalu dengarkan setiap apa yang akan kuucap. Rasakan embusan napas yang kian dekat di telingamu. Hingga kau bisa bayangkan, seolah aku sedang berada di sisi kanan atau kirimu. Hanya dengan cara seperti itu, meski aku jauh, aku akan mencoba mendekat lewat apa yang kau bayangkan. 

Rabu, 21 Juli 2021

Penyembuh atau Perusuh?

 "Aku mencintaimu ..."

Dua kata itulah yang akhir-akhir ini kerap tertangkap oleh gendang telingaku. Yang lalu getaran suaranya dikirimkan ke bagian cochlea untuk kemudian diteruskan ke dalam otak melalui syaraf pendengaran. Dari sanalah aku mencoba untuk mencerna kata-kata itu. Hingga tanpa sadar, melibatkan hati dan kedua pengelihatanku untuk memahaminya. 

Aku berusaha mencari sebuah ketulusan lewat mimik wajahmu yang kini sedang tersenyum, menggenggam erat jemariku, seolah takut akan kehilangan sosok dihadapanmu ini. 

Padahal, tiada kuhitung berapa kali sudah sebuah penolakan yang terlontar dari mulutku, tentang jawaban pernyataan perasaanmu itu. 

Kau pun juga tahu persis, bagaimana ketidaksiapanku menerima seseorang yang bahkan belum lama ini kukenali. 

Bagaimana aku bisa yakin pada orang baru, jika orang yang dulu pernah lama kuyakini begitu keji menghianati. 


Aku masih saja bergeming memandangmu. Bibirku kelu. Semua terasa sunyi beberapa detik. Sebab kebimbangan masih enggan pergi dari hati. Kau, kini menjadi sebuah pertanyaan besar di kepalaku. 

Apakah kehadirmu itu sebagai penyembuh luka-lukaku? Atau kah hanya sebagai perusuh yang membuat luka-lukaku kambuh. 

Dan aku; Masih belum siap menerima kenyataan yang terakhir itu. 


Sabtu, 22 Agustus 2020

Hari Lahir

Seperempat abad yang lalu, seorang anak tampan terlahir dari rahim wanita muda. Tanpa dosa, tanpa rasa canggung, si anak menangis lantang, menciptakan kebahagiaan bagi si ayah dan beberapa keluarga yang tengah menunggu kelahiran si buah hati. 

Dengan kasih sayang dan kesabaran, si wanita muda mulai menggendong buah hatinya, sembari melupakan rasa sakit yang sedang dideranya. Wanita tadi bergegas menyusui si anak, memeluk dengan penuh kelembutan hingga tangisnya perlahan mereda. 

Saat itulah, hari di mana lahirnya sebuah cinta tak berbatas. Sebuah cinta tulus seorang wanita yang tiada mengharap balas dari sang anak. Walau kelak si anak menjadi seorang pendosa, walau kelak si anak akan kerap menyakitinya. Ia akan rela dengan segenap raga mendoa, untuk segala kebaikan anak tercintanya. 

Yaa... Wanita itu adalah ibu. Seorang wanita yang rela berkorban berpeluh darah demi anak tercintanya. Sedang anak tampan tadi adalah aku. Seorang anak yang kerap tega melukai hati ibunya sendiri, demi keinginannya yang tak abadi. 


Sabtu, 15 Agustus 2020

Antipati

Usah kau tanya lagi keadaanku. 

Sebab kepergianmu, membumihanguskan seluruh mimpiku. 

Pun tak perlu kau berbelas kasih padaku. 

Kelak tanpamu, cita-cita baru telah menunggu. 


Dulu kupikir kau adalah bumi untukku. 

Yang senantiasa menopang dan memberi kenyamanan bagiku. 

Menjadi tempat bersandar guna mengistirahatkan segala lelah. 

Memelukku hingga raga ini punah. 


Namun nyatanya kau hanya sebatas angin. 

Yang memberi hawa sejuk sementara bagi segala dahaga. 

Memberi kesan nyaman walau hanya sekejap mata. 

Hadir sebagai semu belaka. 


Dan pada akhirnya, kekhawatiranmu sekadar perhatian yang sia-sia. 

Karena kesedihanmu adalah kemunafikan bagiku. 

Sedang antipatiku menjadi sebuah kenyataan untukmu. 


Minggu, 09 Agustus 2020

Jeda yang Beda

Awalnya aku mencoba mengalah dan memaklumi. Ketika engkau memintaku untuk sejenak memberi jeda pada kebersamaan ini. Engkau memohon padaku agar memberi ruang lebih padamu, hingga kau bisa melakukan segala hal yang tak bisa kau lakukan ketika masih bersamaku.

Walau pada akhirnya kau selalu kembali untukku, terkadang aku tak kuasa menahan sepi yang kerap menerpa diri. Seolah naluri kehilangan selalu hadir, menjelma mimpi buruk di tiap malamku.  Dengan berat hati aku melalui semua ini, hingga kau kembali menghubungi via pesan pendek seperti sedia kala.

Tapi sepertinya jeda kali ini berbeda. Sudah sekian minggu aku tak mendengar kabar darimu, lewat pesan-pesan singkatmu yang tiada kunjung masuk di gawaiku.  Bayang-bayang buruk tentangmu, perlahan menjelma menjadi nyata. Bersamaan dengan akun sosial mediamu yang kini tak lagi bisa kutemukan.

Selasa, 04 Agustus 2020

Initial N

Takdir. Siapa yang bisa menebaknya? mungkin cuma Dukun, dan itupun pasti dengan bantuan Setan; musyrik.

Manusia diciptakan di dunia memang untuk menjalani takdirnya. Mengikuti garis perjalanannya dengan sungguh-sungguh. Tak perlu menebak-nebak tentang apa yang akan kita terima kelak. Cukup berusaha dan berdoa, karena memang kita diperintahkan Tuhan untuk itu.

Seperti halnya apa yang terjadi pada kawanku ini. Dia tidak pernah meminta jika kehidupan di masa kecil hingga dewasanya akan nomadik. Dari mulai pendidikan dasar hingga menengah atas, dia berpindah sekolah empat kali di empat provinsi yang berbeda. Dia hanya berusaha pasrah dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

Seperti keinginan kedua orang tuanya. Akhirnya, dia tumbuh menjadi orang yang tangguh, dengan berjuta pengalaman kehidupannya di bermacam tempat berbeda. Harapanku, kita bisa saling bertukar pengalaman karena dirinya pasti lebih banyak cerita menarik di balik drama kehidupan nomadiknya kala itu. Walau mungkin, jika aku tanya bagaimana pengalaman waktu kecilnya, dia akan bilang “LUPA!”, ya … menyebalkan memang. Semoga dia benar-benar pelupa, bukan orang yang berusaha melupa.

Seperti halnya perempuan pada umumnya. Di balik ketangguhan dalam dirinya, dia mempunyai satu sisi lemah lain. Menangis jika tersakiti, sedih jika dikecewakan, kesal jika ada hal yang tidak berjalan dengan semestinya. Seperti dua tahun lalu, ketika dirinya sakit hati ditinggalkan seseorang yang menurutnya tak akan pernah meninggalkannya. Lalu serta-merta menyalahkan takdir yang seolah dengan tiba-tiba merenggut kebahagiaannya.   

Begitu juga merasa kecewa saat tempohari atasannya memberi tambahan beban pekerjaan yang seharusnya orang lain lah yang mengerjakannya. Atau seperti semalam, yang tiba-tiba kesal karena laptopnya tiba-tiba mati. Padahal ada file penting di dalamnya dan harus dikumpulkan malam itu juga, alhasil itu membuatnya mengetik ulang tugas yang sudah dikerjakan seharian.

Tapi bukan dia, jika mudah tumbang karena hal-hal kecil seperti itu. Karena dia tau, seberat apa pun masalahnya, dirinya masih memiliki sahabat yang selalu ada untuk tempatnya bersandar. Membiarkannya menangis, kemudian mengajaknya untuk memulai kembali dan menyemangati. Pun dia kini sadar, jika apa yang disukainya, belum tentu Tuhan menyukai pula. Meski terkesan berat, Tuhan percaya jika dia akan mampu melalui tiap-tiap langkah perjalanannya.

Pada akhirnya di situlah letak unik dari sebuah perjalanan hidup. Semua yang datang dan pergi pasti memberikan pelajaran dalam hidup kita. Walau takdir sudah ditentukan, namun kita tidak boleh hanya berpangku tangan. Dengan berdoa dan berusaha menjalani takdir itu semaksimal mungkin, siapa tahu dengan seizin Tuhan, takdir kita dapat berubah menjadi lebih baik lagi.

 

 


Senin, 27 Juli 2020

Maafkan Aku

Sebuah senyuman yang awalnya bisa meredakan dahaga di keringnya kisah cintaku, tak kukira kini menimbulkan pedih luka mendalam di relung hati.
Kau yang awalnya kukenal dengan kesan manis, tak kusangka tega membuat jiwaku menangis.
Kau yang dulu terlihat senang kudekati. Sekarang rasanya tak ingin lagi kudekati.

Semua ini perihal dia, yang ternyata telah resmi memilikimu. Aku jadi merasa terbohongi atas pertanda-pertanda yang kau beri ketika sempat kudekati dulu. Apakah lakumu selalu begitu pada setiap lelaki? Atau kau hanya ingin membuatku terbang sementara kau menyiapkan busur panah untuk bisa membuatku jatuh kapan pun?

Tapi waktu tak akan pernah bisa terulang. Salahku yang tak menanyakan statusmu terlebih dulu. Dan salahmu, telah mengizinkanku masuk menjelajahi hatimu. Lalu ... teruntuk semua keinginan dan jawaban dari doaku kelak, aku pasrahkan sudah pada semesta yang merajai.

Maafkan, jika aku tak bisa melakukan lebih dari sekadar berharap. Karena aku hanya lelaki pecundang, yang terlanjur menyukai seseorang yang kurasa tak mungkin akan membagi hatinya pada dua pria.

Kamis, 23 Juli 2020

Untuk Apa Bertahan?

Aku bukanlah seorang tokoh utama dalam alur cerita hidupmu, melainkan kamu sendirilah orangnya.

Pun aku bukanlah seorang tokoh pendukung yang senantiasa mendampingi sang tokoh utama dalam cerita itu.

Tugasku, hanya sebagai pemeran pengganti yang dibutuhkan jika pendukung si tokoh utama sedang tak ada.

Sudah terbiasa memang, untuk selalu merasa dicadangkan. Tak pernah dibutuhkan perannya, terkecuali jika si tokoh utama sedang berkonflik dengan si tokoh pendukung.

Bohong sekali jika kamu tidak paham tentang keinginanku untuk menjadi tokoh pendukung bagimu.

Dan tidak mungkin juga jika kamu tak tahu tentang kebosananku yang selalu hadir sebagai pemeran pengganti untuknya.

Ya ... Aku juga ingin di posisinya. Sebagai seorang pendamping dan pelindung untukmu.
Bukan hanya sebagai cadangan yang tak punya peran berarti bagimu.

Tetapi nyatanya, kamu selalu saja mempertahankan dia. Meski berulangkali konflik di antara kalian terjadi.

Atau mungkin kau berpikir jika aku menikmati peran ini? Ahh ... sepertinya kamu salah menunjukku sebagai pemeran pengganti untuknya.

Maaf jika suatu saat nanti aku terpaksa pergi untuk mencari posisi pendamping bagi tokoh utama lain. Karena, untuk apa aku bertahan jika selalu dicadangkan? Percuma saja bukan?

Senin, 20 Juli 2020

Nadir

Tak kupungkiri,
Kau sempat mempunyai tempat di sudut ruang hatiku
Meramaikan dalamnya yang pernah hampa
Mengisi memori indah yang penuh makna

Tempat itu sangat istimewa
Ada sosokmu yang penuh afeksi
Seseorang yang kupikir tak pernah ada
Yang mampu membuatku menjadi seperti diriku sendiri

Namun sekarang ruang itu serupa tepi langit sore 
Yang sisakan kenangan tercantik hari itu 
Sosok idaman itu telah pergi
Meninggalkan jutaan ingatan indah 
Kenangan kebersamaan dua belas bulan berakhir sudah 

Rabu, 15 Juli 2020

Ingin Meski Tak Bisa

"Aku ingin pulang"
Harapan itu yang selalu kuucap berulang
Aku tak ingin lagi hilang diterpa berbagai penghalang
Hanya namamu yang aku genggam di tengah padang ilalang

Apalagi alasanku pergi, bila bukan kau yang aku cari?
Pantang buatku untuk berjanji, lalu berujung mengingkari

Ini bukan hanya perkara rindu
Yang menjadi inspirasi puisi-puisi sendu
Sebab ini tentang nasib yang tengah diadu
Walau bagimu, mimpiku hanya sebatas residu
Percayalah ... aku masih kuat berjuang hingga raga kita resmi berpadu

Minggu, 12 Juli 2020

Semestaku

Teruntuk kamu, semestaku
Yang pernah hadirkan bahagia dalam hidup
Aku berjanji ...
Semua kenang tentang kita, akan kusimpan dalam memori terdalam

Terimakasih ...
Untuk cinta yang pernah kau bagi
Untuk kasih yang kerap kau beri
Walau harap bersamamu belum penuh pergi, 
Aku berjanji ...
Akan mengikhlaskan tanpa harus melupakan tentang kenangmu

Aku memang bukan lelaki sempurna
Namun denganmu (dulu), aku benar-benar bisa merasa sempurna 
Menjadi teman berbagimu, menjadi tempat bersandarmu, dan menjadi teladan segala tingkahmu
Adalah hal yang selalu aku rindukan

Meski kini hanya bisa mengenang, itu sudah lebih dari cukup untuk sekedar senang
Bahagia bersamamu memang menjadi impianku
Namun melihatmu bahagia adalah akhir dari keinginanku
Walau Kenyataan itu pahit, namun kepahitan itu tak harus dimuntahkan 
Karena aku tahu, masih ada kamu di dalamnya

Selasa, 07 Juli 2020

Aku Ingin Bahagia

Aku ingin bahagia sepertimu
Tertawa lepas tanpa beban
Meski bukan denganmu

Aku ingin bahagia seperti dia
Menjadi pemenang atasmu
Pun selalu membanggakanmu di depan yang lain

Sungguh ...
Aku iri melihat kalian
Mengabadikan cinta bersama di atas singgasana

Entah bagaimana caranya,
aku ingin bahagia
Meski hanya berpura-pura,
aku tetap ingin bahagia

Karna aku yakin
Akan selalu ada bahagia setelahmu
Meski itu bukan denganmu

Senin, 06 Juli 2020

Rencana Akan Tetap Menjadi Rencana

Pupus, adalah kata yang tepat untuk mendefinisikan tentang harapan yang telah kurencanakan pelan-pelan. 

Semua benar-benar pupus. Tatkala aku tahu bahwa dia yang menjadi bagian rencana-rencanaku, memutuskan pergi menjauh dari hatiku yang rentan rapuh.

Belum sembuh dari luka yang lama, namun lagi-lagi aku harus berusaha menyusun ulang rencana-rencana masa depanku dengan lapang. Kini, semua itu kembali menjadi setengah matang.

Bisa jadi akan butuh waktu bertahun-tahun untuk mewujudkan harapan yang dari tahun ke tahun menjadi langganan doa awal tahunku. Lagi-lagi itu tentang temu yang berujung pisah, sebelum ikrar  terucap dengan benar.