Rabu, 19 Juli 2023

Rangkaian Tunggu

Menunggu itu menyenangkan, setidaknya itu bagiku; meski tidak bagimu. Bagaimana bisa menunggu itu membosankan, tatkala itu dapat menampakkan rasa haru bagi yang ditunggu. Bukankah itu merupakan sebuah kebahagiaan pula bagiku; bilamana melihat yang terkasih tersenyum melihat perjuanganku untuknya?

Yaa, bagiku menunggu adalah sebuah perjuangan yang menyenangkan. Jika kita memang yakin dengan apa yang kita tunggu, maka lakukan. Bisa jadi bagimu ini membuang waktu. Tapi bagiku, ini sebuah pembelajaran tentang sabar yang beradu kuat dengan gusar. 

Tidak ada yang sia-sia. Yang ada hanyalah kepuasan atas perjuangan yang telah kulakukan. Tak perlu bersedih bila itu semua meleset dari jalan cerita yang aku ingin. Semua telah digariskan. Semesta telah mengaturnya. Pun aku bukan penenung andal. Yang aku tau, aku hanya perlu berjuang; untukmu. 


Kamis, 24 Maret 2022

Selumbari

Menjelang tengah malam di malam kebahagianmu. Aku masih terjaga dari kantuk yang sempat mengetuk kesadaranku. Pikiran terus saja memaksa untuk melupakan segala sakit, meski keyakinanku berkata sulit.

"Tak masalah bila memang kau bahagia." Hatiku berkata seolah kau mendengarnya. Pun dengan senyum terpaksa aku berhalusinasi menghadirkan sosok dirimu di hadapan. Kulihat wajah sedihmu, persis seperti yang kulihat dua hari lalu.

Bagaimana pun, esok adalah takdir yang akan kita tempuh, meski dengan jalan yang kini berbeda jauh. Tak perlu memikirkan keadaanku. Justru yang aku khawatirkan adalah kamu yang tak mampu rela akan suratan yang telah digariskan dalam hidup kita. 

Aku malah berharap, semua perlakuanmu selama ini, hanyalah sandiwara semata. Dengan begitu, aku lebih mudah untuk melupakanmu. Entahlah ... Yang pasti, sesuai kesepakatan, esok hari adalah hari di mana kita saling menghapus nama di ponsel kita masing-masing. 

Selamat tinggal masa lalu. Kini, dini hari tersisa satu menit lagi. 






Jumat, 13 Agustus 2021

Terkesima

Wajah tanpa halang, tercermin pada sepasang retina. 

Entah musti berucap ataukah cukup mengagum dalam diam.

Raut muka bingung menatap selidik. 

Duhai puan, pandangan itu membuat diri menjadi salah tingkah. 

Andaikan nyali cukup untuk membuat bibir ini berujar. 

Namun sayang, aku hanya membalas senyum atas segala tanyamu. 

Inikah rasa yang dikata orang-orang itu; terkesima pada jumpa pertama. 


Sayangnya, pertemuan ini hanya sebatas perjalanan di kereta. 

Frekuensi tanya pun memudar, seiring kereta telah penuh berlabuh pada tujuan. 

Rabu, 28 Juli 2021

Hanya Sebuah Penawaran

Bagaimana jika begini, kau menjadi teman berceritaku, dan aku menjadi tempat keluh kesahmu. Seperti halnya ketika kau menyandarkan kepala di bahuku. Kau mendapat sedikit kenyamanan dalam lelap, sedang aku sedikit memperoleh ketenangan tatkala menghirup wangi rambutmu dalam hitungan jarak milimeter. Impas bukan?

 

Tapi itu hanya sebuah tawaran saja. Aku tak pernah benar-benar memaksamu. Karena kenyamanan tak pernah butuh suatu paksaan. Karena sebuah paksaan tak akan pernah menumbuhkan kenyamanan. 

Tak perlu berpikir terlalu dalam tentang ini, karena aku tahu, kau pasti akan mengeluh tentang kapasitas otakmu. Sebab ini tidak ada kaitannya dengan kapasitas otak, akan tetapi lebih melibatkan hati dan perasaan. 


Yaaa... Tak perlu berpikir terlalu rumit. Cukup pejamkan saja matamu. Lalu dengarkan setiap apa yang akan kuucap. Rasakan embusan napas yang kian dekat di telingamu. Hingga kau bisa bayangkan, seolah aku sedang berada di sisi kanan atau kirimu. Hanya dengan cara seperti itu, meski aku jauh, aku akan mencoba mendekat lewat apa yang kau bayangkan. 

Rabu, 21 Juli 2021

Penyembuh atau Perusuh?

 "Aku mencintaimu ..."

Dua kata itulah yang akhir-akhir ini kerap tertangkap oleh gendang telingaku. Yang lalu getaran suaranya dikirimkan ke bagian cochlea untuk kemudian diteruskan ke dalam otak melalui syaraf pendengaran. Dari sanalah aku mencoba untuk mencerna kata-kata itu. Hingga tanpa sadar, melibatkan hati dan kedua pengelihatanku untuk memahaminya. 

Aku berusaha mencari sebuah ketulusan lewat mimik wajahmu yang kini sedang tersenyum, menggenggam erat jemariku, seolah takut akan kehilangan sosok dihadapanmu ini. 

Padahal, tiada kuhitung berapa kali sudah sebuah penolakan yang terlontar dari mulutku, tentang jawaban pernyataan perasaanmu itu. 

Kau pun juga tahu persis, bagaimana ketidaksiapanku menerima seseorang yang bahkan belum lama ini kukenali. 

Bagaimana aku bisa yakin pada orang baru, jika orang yang dulu pernah lama kuyakini begitu keji menghianati. 


Aku masih saja bergeming memandangmu. Bibirku kelu. Semua terasa sunyi beberapa detik. Sebab kebimbangan masih enggan pergi dari hati. Kau, kini menjadi sebuah pertanyaan besar di kepalaku. 

Apakah kehadirmu itu sebagai penyembuh luka-lukaku? Atau kah hanya sebagai perusuh yang membuat luka-lukaku kambuh. 

Dan aku; Masih belum siap menerima kenyataan yang terakhir itu. 


Sabtu, 22 Agustus 2020

Hari Lahir

Seperempat abad yang lalu, seorang anak tampan terlahir dari rahim wanita muda. Tanpa dosa, tanpa rasa canggung, si anak menangis lantang, menciptakan kebahagiaan bagi si ayah dan beberapa keluarga yang tengah menunggu kelahiran si buah hati. 

Dengan kasih sayang dan kesabaran, si wanita muda mulai menggendong buah hatinya, sembari melupakan rasa sakit yang sedang dideranya. Wanita tadi bergegas menyusui si anak, memeluk dengan penuh kelembutan hingga tangisnya perlahan mereda. 

Saat itulah, hari di mana lahirnya sebuah cinta tak berbatas. Sebuah cinta tulus seorang wanita yang tiada mengharap balas dari sang anak. Walau kelak si anak menjadi seorang pendosa, walau kelak si anak akan kerap menyakitinya. Ia akan rela dengan segenap raga mendoa, untuk segala kebaikan anak tercintanya. 

Yaa... Wanita itu adalah ibu. Seorang wanita yang rela berkorban berpeluh darah demi anak tercintanya. Sedang anak tampan tadi adalah aku. Seorang anak yang kerap tega melukai hati ibunya sendiri, demi keinginannya yang tak abadi. 


Sabtu, 15 Agustus 2020

Antipati

Usah kau tanya lagi keadaanku. 

Sebab kepergianmu, membumihanguskan seluruh mimpiku. 

Pun tak perlu kau berbelas kasih padaku. 

Kelak tanpamu, cita-cita baru telah menunggu. 


Dulu kupikir kau adalah bumi untukku. 

Yang senantiasa menopang dan memberi kenyamanan bagiku. 

Menjadi tempat bersandar guna mengistirahatkan segala lelah. 

Memelukku hingga raga ini punah. 


Namun nyatanya kau hanya sebatas angin. 

Yang memberi hawa sejuk sementara bagi segala dahaga. 

Memberi kesan nyaman walau hanya sekejap mata. 

Hadir sebagai semu belaka. 


Dan pada akhirnya, kekhawatiranmu sekadar perhatian yang sia-sia. 

Karena kesedihanmu adalah kemunafikan bagiku. 

Sedang antipatiku menjadi sebuah kenyataan untukmu.