Aku Rindu, Aku Ingin Menemuimu
1. Aku bisa titipkan salam pada temanmu, aku pun bisa mengirim surat padamu, namun aku tak sudi, aku takut kalau-kalau kau membenciku.
2. Aku bisa menelfonmu, pun aku bisa mengirimkan pesan pendek untukmu, namun aku tak mau, aku takut kau ragu untuk menemuiku.
3. Aku bisa mendatangi rumahmu, aku juga bisa menjemput di tempat kerjamu, namun aku tak ingin, aku takut kau akan menghindariku.
4. Tak ada hal yang tak bisa untukku menemuimu, tak ada hal yang tak mungkin untukku, tapi aku tak mau melakukannya, aku tak ingin.
5. Aku takut, aku hanya rindu sendiri, aku takut tiada sedikit rindu darimu untukku, aku takut jika nanti kau menertawakanku.
6. Hanya berpasrah pada kehendak Tuhan yang Maha Kuasa, untuk mempertemukanmu denganku, di suatu saat, di suatu tempat, yang tak pernah kita duga, yang tak pernah kita rencana.
7. Jika itu terjadi, mungkin akan ku tuangkan rindu itu, walau hanya sekejap mata, untuk memandangmu, menyapamu, menyentuhmu, mengirup wangi tubuhmu, dan mendengar suara lembut bibirmu.
8. Andai saat ini aku bisa bertanya padamu atas rinduku, aku pasti sudah tidur pulas dari tadi, hingga aku tak perlu menghabiskan waktuku memikirkanmu sampai detik ini yang sudah terlewat dini hari.
9. Ahh.. tidak-tidak.. aku tidak akan pernah menanyakan rindu itu padamu, karena aku takut untuk mendengar jawaban darimu atas rinduku.
Senin, 13 Juni 2016
Minggu, 29 Mei 2016
Negeri Para Boneka
Inilah negeri tempat kakiku bicara
Negeri yang dicipta untuk para boneka seperti kita
Indah namun semu, semu namun nyata
Selaras pandang dari ujung hingga ke ujung
Apakah ada yang membuat hatiku tertarik?
Namun hati tak pernah menipu mata
Adalah kamu yang membuat semua itu menjadi nyata
Harapan-harapan baru kini tercipta
Inilah negeri tempat kakiku berdiri
Tempat para boneka mencari jati diri
Untuk wujudkan masa depan abadi
Sebagaimanapun juga kamu, hai boneka cantik
Irama langkahmu penggugah semangat para boneka pencari mimpi
Nyanyian sepatumu terus terngiang terbawa mimpi
Itulah kau yang membuat aku bertahan di negeri ini
Hai boneka cantik, sudilah engkau menjadi harapanku selanjutnya.
Senin, 11 April 2016
A Night to RememberMalam ini aku teringat, ketika kau dulu menyapaku pertama kali,Bukan hanya senyummu, bahkan nada dan kata yang kau ucap dulu masih tersimpan jelas di otakku.Malam ini aku teringat, ketika saat kau mengajakku pergi ke atap gedung sekolah, lalu kau bercerita tentang apa pun yang kau alami, dan kau membuatku menikmati setiap ucap yang keluar bibir manismu.Aku teringat jua ketika hari-hariku semakin dekat denganmu, tak ada wanita lain yang memenuhi hayalanku selainmu. Namun itu dulu.. Jauh sebelum aku mengenalnya sekarang..Malam ini adalah malam dimana aku ingin mengingat semua moment-moment ketika aku masih bersamamu dulu.Walau tak sedikit cerita duka bersamamu, entah kenapa, malam ini aku ingin sekali mengingatmu..Mungkin karena aku benar-benar telah rindu kepadamu.
Senin, 07 Maret 2016
Wanita Bercadar Tisue
Aku tak harus melakukan itu sehingga aku seolah-olah mengabaikanmu...
Seperti aku tak melihatmu, seperti aku tak memperdulikanmu...
Ya jangan melihatmu, kurasa begitu...
Dan berawal dari senyum saling sapa seharusnya aku lari,
seharusnya aku tak bermain-main dengan hati yang seolah tak mendengarnya...
Tanpa kata, kau biarkan aku mengerti cinta
Tanpa kata, kau membuatku menahan nafas walau ku lari seperti ini..
Tanpa kata, cinta ini meninggalkanku dan cinta ini membuangku..
Apakah kamu melihat air mata yang mengalir dipipiku??
Terkadang kamu begitu sangat dekat sehingga aku bisa gapai hatimu,
meski itu hanya seolah-olah...
Namun bila aku melakukannya, kamu akan mulai menjauh dariku,
alangkah mengesalkan sekaligus mendebarkan.. kamu membuatku gila...
Aku mohon, tetaplah disini karena aku membutuhkanmu..
Tapi jika kamu tetap pergi beri aku kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan dan jangan pernah lupakan aku..
Jika suatu saat kita berjumpa lagi dikemudian hari kuharap tak ada salam perpisahan yg terucap..
Lalu, yang harus ku katakan selanjutnya datang tanpa kata..
Aku tak harus melakukan itu sehingga aku seolah-olah mengabaikanmu...
Seperti aku tak melihatmu, seperti aku tak memperdulikanmu...
Ya jangan melihatmu, kurasa begitu...
Dan berawal dari senyum saling sapa seharusnya aku lari,
seharusnya aku tak bermain-main dengan hati yang seolah tak mendengarnya...
Tanpa kata, kau biarkan aku mengerti cinta
Tanpa kata, kau membuatku menahan nafas walau ku lari seperti ini..
Tanpa kata, cinta ini meninggalkanku dan cinta ini membuangku..
Apakah kamu melihat air mata yang mengalir dipipiku??
Terkadang kamu begitu sangat dekat sehingga aku bisa gapai hatimu,
meski itu hanya seolah-olah...
Namun bila aku melakukannya, kamu akan mulai menjauh dariku,
alangkah mengesalkan sekaligus mendebarkan.. kamu membuatku gila...
Aku mohon, tetaplah disini karena aku membutuhkanmu..
Tapi jika kamu tetap pergi beri aku kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan dan jangan pernah lupakan aku..
Jika suatu saat kita berjumpa lagi dikemudian hari kuharap tak ada salam perpisahan yg terucap..
Lalu, yang harus ku katakan selanjutnya datang tanpa kata..
Senin, 29 Februari 2016
Ketika Mamihh Curhat
Ketika mamihh curhat..
Betapa banyak kegalauan yang menghinggap,
Hingga tak kuasa ia menahan lelehan air mata,
Untukmu, untukku, untuk kita..
Ketika mamihh curhat..
Betapa kusyu' nya ia memanjat doa,
Di sepertiga malamnya yang terjaga,
Demi kamu, demi aku, demi kita..
Ketika mamihh curhat..
Betapa syahdu ia bercerita kepada Sang Kuasa,
Di ujung kegelisahan masa mudanya,
Sebelum ia bertemu dengan papaa..
Ketika mamihh curhat..
Betapa banyak kegalauan yang menghinggap,
Hingga tak kuasa ia menahan lelehan air mata,
Untukmu, untukku, untuk kita..
Ketika mamihh curhat..
Betapa kusyu' nya ia memanjat doa,
Di sepertiga malamnya yang terjaga,
Demi kamu, demi aku, demi kita..
Ketika mamihh curhat..
Betapa syahdu ia bercerita kepada Sang Kuasa,
Di ujung kegelisahan masa mudanya,
Sebelum ia bertemu dengan papaa..
"Ku redam... Kini hadir lagi dukaku, lukaku,
dan ketidakberdayaanku yang berkepanjangan..
Namun tidak... Aku tak ingin menangisi semua ini,
Karna aku tau.. Itulah kenyataan yang terjadi..
Walau sungguh teramat perih dan pedih..
Ya Allah...
Tak ingin aku terhempas.., kalah.., lalu menyerah,
Aku merasa akan datang masa itu..
Dimana saat do'aku akan terjawab..
Saat penantianku tlah berujung..
Dan indah hari~Mu menyapaku..
Ampuni aku ya Robbi...
Karena aku terlalu berharap lebih dari apa yang Engkau beri..
Karena Engkaulah sang pembolak-balik hati,
Maka, ku pasrahkan semua ini pada~Mu..
Hingga Engkau akan hadirkan sesuatu yg seharusnya menjadi milikku dengan ijin~Mu.."
Setelah mamihh curhat..
Betapa ringannya ia tersenyum,
Seolah beban tak lagi memeluknya,
Padamu, padaku, pada kita..
Sabtu, 16 Januari 2016
Setia
Setia itu konstant, ngga berubah, walau banyak godaan didepan.
Setia itu konstant, sedih senang tetap saja senyum.
Setia itu konstant, tetap ada di segala macam cuaca.
Pokoknya setia itu konstant, kalau ngga konstant berarti ngga setia.
Setia itu bukan seperti buaya, kadang di air, kadang di darat, ngga jelas.
Setia juga bukan seperti kupu-kupu, tak hanya siang, malam pun sering berkeliaran.
Setia itu seperti kambing, tiap hari makan rumput, ngga pernah makan nasi.
Setia juga seperti ikan di kolam, walaupun dibiarkan, dia ngga akan mau keluar dari dalam kolam.
Setia itu ya aku, dari dulu ngga laku-laku.
Setia itu memang aku, dari dulu hanya kamu yang ku rindu.
Setia itu sepertiku, walau ngga sempat mandi, tapi tetep wangi.
Setia itu aku, ada atau tidaknya kamu disini, aku tetap makan setiap hari.
Setia itu bukan seperti alfamart, yang buka cabang dimana-dimana.
Setia juga bukan seperti nilai tukar rupiah, sukanya berubah-ubah.
Setia itu seperti tol cipali, lurus ngga belok-belok.
Dan setia itu juga seperti kamu, ada dan tidaknya aku, kamu tetap saja bersama DIA.
Setia itu konstant, ngga berubah, walau banyak godaan didepan.
Setia itu konstant, sedih senang tetap saja senyum.
Setia itu konstant, tetap ada di segala macam cuaca.
Pokoknya setia itu konstant, kalau ngga konstant berarti ngga setia.
Setia itu bukan seperti buaya, kadang di air, kadang di darat, ngga jelas.
Setia juga bukan seperti kupu-kupu, tak hanya siang, malam pun sering berkeliaran.
Setia itu seperti kambing, tiap hari makan rumput, ngga pernah makan nasi.
Setia juga seperti ikan di kolam, walaupun dibiarkan, dia ngga akan mau keluar dari dalam kolam.
Setia itu ya aku, dari dulu ngga laku-laku.
Setia itu memang aku, dari dulu hanya kamu yang ku rindu.
Setia itu sepertiku, walau ngga sempat mandi, tapi tetep wangi.
Setia itu aku, ada atau tidaknya kamu disini, aku tetap makan setiap hari.
Setia itu bukan seperti alfamart, yang buka cabang dimana-dimana.
Setia juga bukan seperti nilai tukar rupiah, sukanya berubah-ubah.
Setia itu seperti tol cipali, lurus ngga belok-belok.
Dan setia itu juga seperti kamu, ada dan tidaknya aku, kamu tetap saja bersama DIA.
Rabu, 30 Desember 2015
Aku Menyerah
Aku menyerah dinda, aku menyerah mengejarmu,
Kau begitu cepat berlari di depanku,
Sejengkal jarak yang seharusnya bisa kukejar untuk meraihmu, kini semakin melebar jauh,
Itu karena kau yang semakin melesat, dan aku yang semakin lambat.
Ibarat kau berlari dengan sepatu roda, aku berlari dengan kaki telanjng di atas jalan penuh duri,
Duri-duri yang memang sengaja engkau sebar, hanya untuk membuat jarak dgn ku.
Aku menyerah dinda, aku menyerah mengejarmu
Karena sekarang aku paham, akan ke arah mana engkau berlari menuju.
Cahaya cerah di depan menunggumu, dengan segala harapan yang menggiurkan untukmu.
Tak ada alasan lagi untuk hanya sekedar menoleh kebelakang, yang gelap, pengap, dan penuh ratap, yang tidak ada seberkas sinar cerahpun, terkecuali hanya sebatang lilin usang dengan remang api yang menari-nari diujungnya.
Aku mnyerah dinda, aku menyerah mengejarmu
Karena tak ada alasan lagi untukku menghalangimu
Mencari cahaya yang lebih terang dariku agar kaupun dapat menjadi bayangan yang lebih sempurna.
Aku menyerah dinda, dan kini aku akan berhenti mengejarmu, cukup sampai disini aku di belakangmu, dengan darah kaki yang penuh duri, akan coba ku putar arah langkahku untuk mengobati lukaku sndiri..
Aku menyerah dinda, aku menyerah mengejarmu,
Kau begitu cepat berlari di depanku,
Sejengkal jarak yang seharusnya bisa kukejar untuk meraihmu, kini semakin melebar jauh,
Itu karena kau yang semakin melesat, dan aku yang semakin lambat.
Ibarat kau berlari dengan sepatu roda, aku berlari dengan kaki telanjng di atas jalan penuh duri,
Duri-duri yang memang sengaja engkau sebar, hanya untuk membuat jarak dgn ku.
Aku menyerah dinda, aku menyerah mengejarmu
Karena sekarang aku paham, akan ke arah mana engkau berlari menuju.
Cahaya cerah di depan menunggumu, dengan segala harapan yang menggiurkan untukmu.
Tak ada alasan lagi untuk hanya sekedar menoleh kebelakang, yang gelap, pengap, dan penuh ratap, yang tidak ada seberkas sinar cerahpun, terkecuali hanya sebatang lilin usang dengan remang api yang menari-nari diujungnya.
Aku mnyerah dinda, aku menyerah mengejarmu
Karena tak ada alasan lagi untukku menghalangimu
Mencari cahaya yang lebih terang dariku agar kaupun dapat menjadi bayangan yang lebih sempurna.
Aku menyerah dinda, dan kini aku akan berhenti mengejarmu, cukup sampai disini aku di belakangmu, dengan darah kaki yang penuh duri, akan coba ku putar arah langkahku untuk mengobati lukaku sndiri..
Langganan:
Postingan (Atom)