Senin, 02 Oktober 2023

Bidadari Penakut

Hantu? Makhluk macam apa itu? Aku tidak mempercayainya.

Takut? Untuk apa aku menakutkan hal yang tak bisa kulihat. Justru aku lebih takut jika kehilangan sosok bidadari yang sedang serius bercerita tentang hal-hal mistis; padaku. 

Kamu? Yaa, Bidadari itu adalah kamu. Makhluk indah yang nyata hadir di hadapanku. 

Sedikit lucu memang, bagaimana bisa seorang bidadari takut dengan hantu, yang sekali pun tak pernah memperlihatkan wujud padamu?

Yang kupikir kan malah sebaliknya, mereka mengganggu karena merasa iri saja padamu. Kau bisa kulihat, sedang mereka tak dapat. Kau bisa kugenggam, sedang mereka berbeda alam. Kau mampu kuajak tertawa, sedang mereka hanya melihat dengan kecewa. Dan ... karena parasmu indah, sedang mereka tak napak dengan tanah. 

Berbanggalah, karena kau menang telak atas mereka. Untuk apa takut, jika kau yakin bahwa kau adalah juaranya. Mungkin mereka mengusikmu kali ini. Tapi tidak untuk waktu setelahnya. Sebab kau sekarang punya seorang penjaga (sepertiku), sedangkan mereka tak punya apapun terkecuali raga yang hampa. 

Kelak, jika mereka kembali mengganggu, tak usah kau lari. Sebut saja namaku tiga kali, mereka nanti yang akan pergi.

Jadi, mulai saat ini. Tak perlu lagi risau masalah ketakutanmu pada mereka. Risaulah pada kebersamaan kita, dengan masa depan yang masih dipertanyakan. 

Kau; sang bidadari sejati. Aku; sang pemimpi bidadari.

Minggu, 01 Oktober 2023

Selendang Bidadari

Purnama pertama di bulan oktober. Aku masih saja mengharap temu denganmu, di ruang tunggu kita; tempat biasa kita berjumpa.

Pagi ini bertepatan dengan hari senin. Aku sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Seperti halnya hari-hari sebelumnya. Niatku pagi ini hanya satu; ingin segera menjumpaimu.

Meski hanya berpapasan, atau sekadar bertukar senyum. Aku merasakan ada hal yang lain, seperti ada yang membuatku betah untuk berlama-lama melewati hari ini. Ada hal yang membuatku berharap, agar waktu sedikit saja memberiku ruang untuk membersamaimu hari ini. 

"Ahh, andai saja jam di tanganku yang sedang berhenti ini bisa turut serta menghentikan waktu semesta ..." pikirku waktu itu. 

Namun, aku sedikit cemas ketika bidadari yang aku tunggu, kini tak kunjung datang menampakkan diri. Apakah dia akan datang lebih siang dari biasanya? Apakah aku perlu mengirim pesan padanya untuk menjawab rasa penasaranku itu? Ahh, meskipun ingin, tapi aku merasa kurang percaya diri untuk menanyakan hal sepele seperti itu padamu. 

Dalam diam aku berangan, agar kau segera hadir di hadapanku. Secepat kilat menujuku, terbang dengan selendang bidadari warna biru favoritmu. 

Ahh, semisal saja aku punya selendang semacam itu (juga), mungkin aku saja yang datang menjemputmu, agar cemas tak lagi merongrong pikiran tentang ketidakhadiranmu. 

Atau aku curi saja selendang itu darimu. Agar kelak, kau tak bisa terbang ke mana-mana, tanpa aku; di sisimu.

Rabu, 19 Juli 2023

Rangkaian Tunggu

Menunggu itu menyenangkan, setidaknya itu bagiku; meski tidak bagimu. Bagaimana bisa menunggu itu membosankan, tatkala itu dapat menampakkan rasa haru bagi yang ditunggu. Bukankah itu merupakan sebuah kebahagiaan pula bagiku; bilamana melihat yang terkasih tersenyum melihat perjuanganku untuknya?

Yaa, bagiku menunggu adalah sebuah perjuangan yang menyenangkan. Jika kita memang yakin dengan apa yang kita tunggu, maka lakukan. Bisa jadi bagimu ini membuang waktu. Tapi bagiku, ini sebuah pembelajaran tentang sabar yang beradu kuat dengan gusar. 

Tidak ada yang sia-sia. Yang ada hanyalah kepuasan atas perjuangan yang telah kulakukan. Tak perlu bersedih bila itu semua meleset dari jalan cerita yang aku ingin. Semua telah digariskan. Semesta telah mengaturnya. Pun aku bukan penenung andal. Yang aku tau, aku hanya perlu berjuang; untukmu. 


Kamis, 24 Maret 2022

Selumbari

Menjelang tengah malam di malam kebahagianmu. Aku masih terjaga dari kantuk yang sempat mengetuk kesadaranku. Pikiran terus saja memaksa untuk melupakan segala sakit, meski keyakinanku berkata sulit.

"Tak masalah bila memang kau bahagia." Hatiku berkata seolah kau mendengarnya. Pun dengan senyum terpaksa aku berhalusinasi menghadirkan sosok dirimu di hadapan. Kulihat wajah sedihmu, persis seperti yang kulihat dua hari lalu.

Bagaimana pun, esok adalah takdir yang akan kita tempuh, meski dengan jalan yang kini berbeda jauh. Tak perlu memikirkan keadaanku. Justru yang aku khawatirkan adalah kamu yang tak mampu rela akan suratan yang telah digariskan dalam hidup kita. 

Aku malah berharap, semua perlakuanmu selama ini, hanyalah sandiwara semata. Dengan begitu, aku lebih mudah untuk melupakanmu. Entahlah ... Yang pasti, sesuai kesepakatan, esok hari adalah hari di mana kita saling menghapus nama di ponsel kita masing-masing. 

Selamat tinggal masa lalu. Kini, dini hari tersisa satu menit lagi. 






Jumat, 13 Agustus 2021

Terkesima

Wajah tanpa halang, tercermin pada sepasang retina. 

Entah musti berucap ataukah cukup mengagum dalam diam.

Raut muka bingung menatap selidik. 

Duhai puan, pandangan itu membuat diri menjadi salah tingkah. 

Andaikan nyali cukup untuk membuat bibir ini berujar. 

Namun sayang, aku hanya membalas senyum atas segala tanyamu. 

Inikah rasa yang dikata orang-orang itu; terkesima pada jumpa pertama. 


Sayangnya, pertemuan ini hanya sebatas perjalanan di kereta. 

Frekuensi tanya pun memudar, seiring kereta telah penuh berlabuh pada tujuan. 

Rabu, 28 Juli 2021

Hanya Sebuah Penawaran

Bagaimana jika begini, kau menjadi teman berceritaku, dan aku menjadi tempat keluh kesahmu. Seperti halnya ketika kau menyandarkan kepala di bahuku. Kau mendapat sedikit kenyamanan dalam lelap, sedang aku sedikit memperoleh ketenangan tatkala menghirup wangi rambutmu dalam hitungan jarak milimeter. Impas bukan?

 

Tapi itu hanya sebuah tawaran saja. Aku tak pernah benar-benar memaksamu. Karena kenyamanan tak pernah butuh suatu paksaan. Karena sebuah paksaan tak akan pernah menumbuhkan kenyamanan. 

Tak perlu berpikir terlalu dalam tentang ini, karena aku tahu, kau pasti akan mengeluh tentang kapasitas otakmu. Sebab ini tidak ada kaitannya dengan kapasitas otak, akan tetapi lebih melibatkan hati dan perasaan. 


Yaaa... Tak perlu berpikir terlalu rumit. Cukup pejamkan saja matamu. Lalu dengarkan setiap apa yang akan kuucap. Rasakan embusan napas yang kian dekat di telingamu. Hingga kau bisa bayangkan, seolah aku sedang berada di sisi kanan atau kirimu. Hanya dengan cara seperti itu, meski aku jauh, aku akan mencoba mendekat lewat apa yang kau bayangkan. 

Rabu, 21 Juli 2021

Penyembuh atau Perusuh?

 "Aku mencintaimu ..."

Dua kata itulah yang akhir-akhir ini kerap tertangkap oleh gendang telingaku. Yang lalu getaran suaranya dikirimkan ke bagian cochlea untuk kemudian diteruskan ke dalam otak melalui syaraf pendengaran. Dari sanalah aku mencoba untuk mencerna kata-kata itu. Hingga tanpa sadar, melibatkan hati dan kedua pengelihatanku untuk memahaminya. 

Aku berusaha mencari sebuah ketulusan lewat mimik wajahmu yang kini sedang tersenyum, menggenggam erat jemariku, seolah takut akan kehilangan sosok dihadapanmu ini. 

Padahal, tiada kuhitung berapa kali sudah sebuah penolakan yang terlontar dari mulutku, tentang jawaban pernyataan perasaanmu itu. 

Kau pun juga tahu persis, bagaimana ketidaksiapanku menerima seseorang yang bahkan belum lama ini kukenali. 

Bagaimana aku bisa yakin pada orang baru, jika orang yang dulu pernah lama kuyakini begitu keji menghianati. 


Aku masih saja bergeming memandangmu. Bibirku kelu. Semua terasa sunyi beberapa detik. Sebab kebimbangan masih enggan pergi dari hati. Kau, kini menjadi sebuah pertanyaan besar di kepalaku. 

Apakah kehadirmu itu sebagai penyembuh luka-lukaku? Atau kah hanya sebagai perusuh yang membuat luka-lukaku kambuh. 

Dan aku; Masih belum siap menerima kenyataan yang terakhir itu.