Sabtu, 16 Januari 2016

Setia

Setia itu konstant, ngga berubah, walau banyak godaan didepan.
Setia itu konstant, sedih senang tetap saja senyum.
Setia itu konstant, tetap ada di segala macam cuaca.
Pokoknya setia itu konstant, kalau ngga konstant berarti ngga setia.

Setia itu bukan seperti buaya, kadang di air, kadang di darat, ngga jelas.
Setia juga bukan seperti kupu-kupu, tak hanya siang, malam pun sering berkeliaran.
Setia itu seperti kambing, tiap hari makan rumput, ngga pernah makan nasi.
Setia juga seperti ikan di kolam, walaupun dibiarkan, dia ngga akan mau keluar dari dalam kolam.

Setia itu ya aku, dari dulu ngga laku-laku.
Setia itu memang aku, dari dulu hanya kamu yang ku rindu.
Setia itu sepertiku, walau ngga sempat mandi, tapi tetep wangi.
Setia itu aku, ada atau tidaknya kamu disini, aku tetap makan setiap hari.

Setia itu bukan seperti alfamart, yang buka cabang dimana-dimana.
Setia juga bukan seperti nilai tukar rupiah, sukanya berubah-ubah.
Setia itu seperti tol cipali, lurus ngga belok-belok.
Dan setia itu juga seperti kamu, ada dan tidaknya aku, kamu tetap saja bersama DIA.


Rabu, 30 Desember 2015

Aku Menyerah

Aku menyerah dinda, aku menyerah mengejarmu,
Kau begitu cepat berlari di depanku,
Sejengkal jarak yang seharusnya bisa kukejar untuk meraihmu, kini semakin melebar jauh,
Itu karena kau yang semakin melesat, dan aku yang semakin lambat.
Ibarat kau berlari dengan sepatu roda, aku berlari dengan kaki telanjng di atas jalan penuh duri,
Duri-duri yang memang sengaja engkau sebar, hanya untuk membuat jarak dgn ku.

Aku menyerah dinda, aku menyerah mengejarmu
Karena sekarang aku paham, akan ke arah mana engkau berlari menuju.
Cahaya cerah di depan menunggumu, dengan segala harapan yang menggiurkan untukmu.
Tak ada alasan lagi untuk hanya sekedar menoleh kebelakang, yang gelap, pengap, dan penuh ratap, yang tidak ada seberkas sinar cerahpun, terkecuali hanya sebatang lilin usang dengan remang api yang menari-nari diujungnya.

Aku mnyerah dinda, aku menyerah mengejarmu
Karena tak ada alasan lagi untukku menghalangimu
Mencari cahaya yang lebih terang dariku agar kaupun dapat menjadi bayangan yang lebih sempurna.

Aku menyerah dinda, dan kini aku akan berhenti mengejarmu, cukup sampai disini aku di belakangmu, dengan darah kaki yang penuh duri, akan coba ku putar arah langkahku untuk mengobati lukaku sndiri..


Minggu, 08 November 2015

Aku dan Lelehan Cadburry

Jika menunggu adalah hal menyakitkan,
Bagiku menunggumu adalah hal yang mengasikkan,
Jika menanti adalah hal yang membosankan,
Untukku menantimu adalah hal yang senang kulakukan,
Tak ada hal yang paling istimewa selain menunggumu,
Menunggumu menyiapkan senyuman untukku,
Menunggumu bermake up cantik untukku,
Juga menunggu pelukkan hangat yang mungkin akan kau hadirkan untukku.

Aku suka menunggu karena itu memang diriku,
Diriku yang kuat terhadap cobaan waktu,
Diriku yang bisa bertahan siksaan menunggumu,
Aku suka menunggu bukan karena aku tak ingin cepat menemuimu,
Tidak lebih itu karena aku menghargaimu yang tak ingin diburu-buru olehku,
Kadang aku berlagak sok kuat agar kau bebas dengan duniamu,
Bebas dengan segala aktifitas dan rutinitas yang aku tak pernah tahu.

Mungkin kau merasa aku tak penting untukmu,
Layaknya sebuah coklat cadbury yang baru kubeli,
Dia dapat bertahan hingga batas masa berlakunya,
Begitupun jika kita coba melihat dari wujud luarnya mungkin
Semua akan tampak sempurna,
Namun kau tak akan pernah tahu bagaimana wujud aslinya,
Tanpa kau pernah menyentuh bagian dalamnya,
Dia akan sekeras batu es jika dalam penantian masanya ia berada di lemari pendingin,
Namun dia juga dapat meleleh seperti lilin, jika dihabiskan masanya dalam suhu yang amat panas,
Jika aku diibaratkan coklat cadbury, maka di hadapanmu pun aku masih bisa tersenyum,
Namun kau tak pernah tau jika terlalu lama menunggu, hatikupun mungkin bisa menjadi beku sekeras es atau meleleh seperti lilin,

Untuk cadbury, kau lebih suka memakannya langsung setelah membeli? atau kau akan menyimpannya dalam freezer terlebih dahulu? Atau mungkin kau akan membiarkannya meleleh lalu baru kau makan?

Dan untukku sendiri, kau lebih suka menemuiku langsung tanpa membuatku menunggu? Atau kau akan membuatku menunggu dahulu, baru kau akan sudi menemuiku?
Jika kau ingin aku menunggumu, lalu sampai kapan?
Apakah sampai nanti aku sadar, jika kau memang sengaja melakukannya untukku? Karena kau menyiksaku untuk menunggumu.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Senyum Rindu


Hari ini, kesekian kalinya aku lewat di depan tempatmu..
Namun entah mengapa kali ini berbeda, teramat sangat..
Mungkin kamu lah yang membuatnya menjadi beda
Beda, karena ketiadaanmu dari tempat itu
Entah sengaja ataupun tidak
Kau telah membiarkan tempat itu dihuni oleh orang selain kamu,

Sebenarnya, bukan pesonamu yang aku cari
Pun tak pula ku mencari perhatian darimu
Namun senyumanmulah yang selalu membuat rindu
Senyumanmu yang membuatku ingin selalu menatapmu
Senyumanmu yang membuatku ingin kau terus berada disitu
Senyuman yang telah menjadi candu untuk diriku
Dan senyuman yang selalu membuatku untuk mencari suatu alasan agar aku dapat lewat dihadapanmu
Walau hanya sekejap, bertukar senyum lalu berlalu pergi
Setidaknya itulah hal sederhana yang selalu aku rindu,

Walau dulu pun senyum itu terasa biasa
Namun karena kebiasaan itulah yang membuatku tidak biasa tanpamu
Semenjak kau pergi, senyumku terkunci
Semenjak kau pergi, aku menjadi lupa cara untuk tersenyum
Sungguh tiada gairah lagi untuk melewati tempat itu
Tempat yang kini hampa, sepi, tanpa senyuman itu
Sedang jika aku melewati, hanya bayang dan angan yang tercipta di sela ingatanku,

Akankah aku akan melihat senyum itu lagi?
Bisakah aku melawan kerinduanku sendiri?
Haruskah aku hapus bekas yang kau tinggal pergi?
Ahh.. Tak tahulah nanti, bagaimana aku akan mencari

Sedang perkenalanpun, tiada pernah ku jalani.

Kamis, 17 September 2015

Pelangi

Maha karya indah penuh warna
Terciptakan dari seberkas cahaya,
Lalu terbiaskan oleh buliran hujan,
Hingga sejuta warna bersatu terjabarkan
Sungguh indah, oleh perpaduan warna sempurna
Karena tak satupun dari mereka yang terpisah belah

Karena tak ada keegoisan diantara mereka,
Karena mereka tercipta bukan untuk berlomba
Menjadi yang paling indah, menjadi yang tersempurna
Karena mereka sadar, mereka tercipta untuk menyatu
Menjadi sebuah legenda abadi yang selalu ditunggu
Membuang jauh individualisnya,
Demi sebuah kesan mendalam diusai hujan

Bagaimanakah dengan kita, manusia

Akankah kita bisa seperti mereka?

Jumat, 04 September 2015

Keresahan pada Masa Depan

Malam semakin larut
Seiring dengan mata ini yang enggan untuk terpejam
Bimbang... Takut... Sedih...
Semua rasa yang tergambar jelas,
dalam sebuah angan yg ku bayangkan~ saat ini..
Mau tapi tak ingin,
Tak ingin, tapi harus...
Tak ada pilihan lagi

Satu tahun sudah kini,
Lama pun tak terasa dijalani
Dari masa bertemu hingga berpisah,
Dengan berbagai proses kebersamaan didalamnya
Denganmu, dengan dia, dan dengan kalian...

Tak terbayang jika kebersamaan itu berakhir
Kalianlah teman, kalianlah sahabat dan juga keluarga
Walau waktu pertemuan kita singkat,
semoga hati kita tetaplah dekat
Kelak ingatlah, kita pernah berada dijalan yg sama
Walau mungkin nanti kita akan berada dijalur yang berbeda

Sungguh, bukan hanya kalian yang aku pikirkan...
Bagaimana dengan ku sndiri?
Jalanku? Takdirku dan nasibku?
Bagaimana nanti? Baikkah? Burukkah?

Tak ada habisnya "BINGUNG" berputar-putar di kepalaku.
Memanglah tak ada yang tau soal waktu, namun aku selalu berusa mengukir takdir terbaikku kelak,
Harapanku pun semoga begitulah dengan kalian,
Bersama menjalani takdir di garis kehidupan kita masing-masing
Semoga kita, mendapatkan sahabat dan keluarga baru kelak, tanpa melupakan kekeluargaan kita yang sekarang.

Kamis, 03 September 2015

Puisi dari Wanita Putus Asa

Lelah, hanya lelah yang kurasa
pikiranpun entah kemana
tak terlihat jalan terang disana
apakah ini yg dinamakan putus asa?

sedih, senang, kecewa senang beradu dipikiranku
apakah ini yg sedang direncanakan Tuhan untukku?
akupun tak tau
Entah baik atau pun kurang baik,
Kupasrahkan semua yang nanti akan menjadi suratanku